Thursday, July 13, 2017

KUTUKAN KAMPUNG NAGA



Meski miskin, mereka pantang meminta-minta. Katanya takut dimarahi leluhur. Hingga kini masyarakat Kampung Naga enggan menembok rumahnya, tidak suka televisi apalagi listrik, mobil maupun pakaian warna-warni. Mereka juga menangis jika punya jabatan, katanya takut korupsi. Kehidupan duniawi, bagi mereka, benar-benar tidak ada.
Begitu sarung-sarung dilemparkan ke tepi sungai, lebih dari seratus lelaki tampak telanjang bulat. Berlarian mereka terjun ke Sungai Ciwulan yang airnya cokelat. Menerjang arus di tengah serakan batu-batu besar, tubuh mereka tampak tenggelam lalu muncul lagi di permukaan sungai yang lebarnya sekitar 15 meter itu.
Mereka menggosok bagian badan di atas pusar dengan leuleueur, cairan dari campuran akar dan buah tertentu. “Memakai sabun pada peristiwa ini dilarang,” ujar seorang lelaki yang masih menggosok badannya dengan cairan berwarna merah muda itu.
Setelah menyelam sekali lagi dan menggosok badan, kali ini tanpa leuleueur, mereka naik ke darat. Tanpa mengeringkan badan, mereka pada menyambar kain yang mereka campakkan tadi.
“Kami baru melakukan bebersih,” ujar Djadja Sutedja, 54 tahun, kuncen atau pemimpin adat di Kampung Naga.
Itu merupakan awal rangkaian upacara hajat sasih, semacam penghormatan kepada leluhur. Biasanya dilakukan enam kali setahun. Mereka sedianya akan melangsukan upacara pada pekan ketiga bulan Maret, bertepatan dengan pertengahan Jumadil Akhir.
Kampung di mana orang-orang berendam terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, 30 km dari Tasikmalaya dan 26 km dari Garut, Jawa Barat. Namanya cukup unik: Kampung Naga.
Untuk bisa ke Kampung Naga, orang harus melewati sekitar 500 anak tangga. Terbuat dari batu yang dilapis semen, tangga itu menuruni bukit yang terjal dengan kemiringan sekitar 45 derajat.
Dari muara tangga terbentang jalan batu di antara sawah-sawah. Indah, memang. Sungai Ciwulan, yang biasa digunakan untuk bersuci, mengalir di sisi kampung sebelah utara hingga ke timur. Sedangkan di arah barat dan timur, perbukitan yang dimanfaatkan untuk persawahan berdiri mengepung.
Selain 94 rumah penduduk, di kampung ini juga terdapat sebuah masjid, satu balai kampung, dan satu bangunan yang disebut.
Rumah pimpinan adat, kuncen, terletak di sebelah kiri masjid. Sekeliling kampung dipagari bambu dan pepohonan lain, hingga batas pinggirnya jelas kelihatan. Di tepi kolam-kolam ikan terdapat saung lisung, tempat menumbuk padi, leuit, tempat menyimpan padi, serta ruangan-ruangan kecil yang terbuat dari anyaman bambu dan dialiri air pancuran, yang berfungsi sebagai kamar mandi, wc, dan tempat cuci pakaian.
Tak ada penduduk yang punya kamar mandi pribadi. Ini uniknya. Di sekitar kolam itu juga dibangun kandang kerbau atau kambing. Daerah ini termasuk wilayah kotor, sedangkan daerah tempat tinggal dan bangunan umum merupakan wilayah bersih.
Ini memang kampung orang Islam, yang kehidupan sehari-harinya akrab dengan air (berwudu, mencuci najis, mandi), sehingga yang kotor dan yang bersih memang tidak bercampur baur.
Kampung Naga memang unik dibanding kampung lain-lainnya. Di sini sekitar 335 orang tinggal. Mereka mengaku keturunan.
Konon, moyang ini dahulu prajurit Mataram yang malu pulang setelah gagal menyerbu Batavia pada zaman Sultan Agung.
Selain lebih dari 300 orang yang kini berdiam di dalam, ratusan keturunan lainnya berada di luar kampung. Dan kelompok itu sendiri mereka sebut, artinya sekampung Naga, seadat Naga.
Orang-orang Sa Naga terkenal sangat patuh memegang tradisi. Mereka tidak suka bila listrik masuk desa. Bukan itu saja, mereka juga tidak suka televisi. Mereka juga enggan menggunakan mobil. Mengenakan pakaian warna-warni. Identiknya, mereka hanya menggunakan pakaian berwarna putih atau hitam. Selain itu, sarung juga menjadi ciri khas mereka. Yang menarik, semua orang di Kampung Naga tidak mengenakan alas kaki seperti sandal atau sepatu.
“Kami selalu taat terhadap leluhur. Benda-benda modern selalu membawa sial,” demikian diungkapkan Mak Loh, warga Kampung Naga paling tua. Usianya mencapai 100 tahun.
Pada hajatan sasih ini, kata Mak Loh, semua orang memohon berkah agar diberi keselamatan dan rezeki yang cukup.

“Kami selalu taat kepada adat nenek moyang,” ujarnya, sambil mengunyah ikan emas dan nasi putih.
“Kepatuhan kami pada adat sangat tinggi,” ujar Mak Loh.
“Seminggu tiga hari kami melakukan upacara nyepi.” Waktu nyepi itu, hari Selasa, Rabu, dan Sabtu. Biasanya kami membisu jika ditanya tentang riwayat nenek moyang dan Kampung Naga.
Kepatuhan lain: “Kami tak berani menyebut Kecamatan Singaparna di Tasikmalaya.”
Sebab nama itu, lanjut Mak Loh, sama dengan nama leluhurnya. “Kami menyebut kecamatan itu Galunggung.”
Kenapa Kampung Naga tidak suka dengan benda-benda modern, karena takut terkena kuwalat. Padahal, hanya sekitar 500 meter dari mereka pengaruh peradaban modern sudah terasa. Jalan besar yang menghubungkan Tasikmalaya dengan Garut itu setiap hari ramai dilewati kendaraan bermotor yang memungkinkan orang melompat sekaligus ke kehidupan modern. Pergi ke kota, paling tidak.
Sebaliknya, gaya hidup masyarakat Kampung Naga sangat tradisional sekali. Mereka benar-benar menggunakan tradisi leluhur. Semua rumah tidak ada yang terbuat dari tembok, pesawat televisi juga tidak ada, apalagi mobil. Menurut mereka, kegairahan modern hanya akan membungkam seseorang untuk menuruti syahwat duniawi.
“Kami mempunyai falsafah hidup,” ujar Mak Loh, yakni Teu Saba, Teu Soba. Teu Banda, Teu Boga. Teu Weduk, Teu Bedas. Teu Gagah, Teu Pinter.
Artinya: “Kami dianjurkan menjauhi kehidupan harta dan tidak merasa lebih dari yang lain,” katanya.
Soal urusan adat, Kampung Naga (kepala desa) Kasadayana (54) mengatakan, dirinya sama sekali tidak berani meninggalkan adat yang ada. Selain takut kuwalat, dia juga bilang hal itu sudah menjadi tradisi yang terbantahkan.
Bersama puluhan lelaki Sa Naga yang lain, Kasadayana duduk bersila di masjid yang terletak di tengah-tengah perkampungan. Dan seperti orang-orang lain ia pun memakai jubah putih yang panjangnya sampai ke lutut, menutup sebagian kain sarung pelekatnya.
“Seperti pada waktu mandi, memakai celana dalam sekarang juga tidak boleh,” ujarnya.
Masjid kampung Naga sendiri berukuran sekitar 5 x 10 meter. Bila hajat sasih tiba, masjid itu tampak bernada putih oleh warna jubah belacu yang dikenakan orang-orang. Mereka duduk bersila dan di depannya tergeletak sapu lidi bertangkai kayu cukup panjang. Mereka menunggu saat berangkat ke makam Eyang Singaparna yang terletak di pucuk bukit, hanya sekitar satu kilometer dari masjid.
Benar, di barat rumah ibadah terdapat bangunan lain yang besar. Berukuran 3 x 6 meter. Rumah beratap iju. Berdinding anyaman bambu yang disebut, semacam potongan bambu yang dianyam berselang-seling horisontal dan vertikal.
Sekeliling bangunan itu dipagari bambu. “Bangunan yang keramat memang selalu kami pagari bambu,” ujar Kasadayana.
Di latar belakang rumah besar itu tampak pohon-pohon tinggi dan rimbun. Bangunan yang disebut Bumi Ageung itu memang membersitkan misteri. Dan memang, di Bumi Ageung inilah senjata pusaka Kampung Naga berupa tombak dan keris disimpan.
Sehari-hari bangunan ini ditunggui seorang wanita yang sudah tak haid lagi. Dari sini pula, ternyata, sesajen upacara diambil. Dan kadangkala Mak Loh juga bertugas menjaga bangunan tersebut. “Jaganya sih giliran, tapi harus wanita yang sudah tidak haid,” ujar Mak Loh.
Djadja Sutedja, sang kuncen, keluar pertama kali. Membawa anglo kecil berisi kemenyan terbakar, ia berjalan paling depan. Di belakangnya, lelaki yang dianggap tetua kampung mengiringnya dengan membawa tampah berisi lemareun.
“Itu sesajen untuk Eyang Singaparna,” ujar Kasadayana sambil memperinci lemareun yang antara lain: sirih pinang, kapur, gambir, tembakau, dan daun saga.
Konon Eyang memang suka, alias punya hobi makan sirih. Sambil terus berkisah Lukanta tegak berdiri, sementara yang lain-lain sudah ada yang berjalan ke luar. Bertelanjang kaki, dan menyandang sapu lidi, mereka menuju makam Eyang Singaparna itu. Berbaris satu-satu.
“Sekarang kami akan membersihkan makam dengan sapu ini,” ujar Kasadayana, lalu lenyap di belokan.
Para lelaki yang mengenakan baju putih-putih itu kemudian menempuh jalan yang sempit, berbelok tajam, dan menanjak. Memasuki makam seorang diri, di tengah bau dupa yang keras, kuncen melakukan unjuk-unjuk meminta izin kepada Eyang Singaparna sembari menghadap ke arah barat.
Kuncen merupakan orang terakhir yang meninggalkan makam. Dan kini masjid kembali didominasi warna putih. Para pengikut upacara dengan jubah putih mereka kembali duduk, setelah menyimpan sapu lidi di para-para rumah ibadah itu.
Pemandangan selanjutnya: lewat jendela yang sempit, ratusan tumpeng yang berisi nasi dan lauk pauk serta buah-buahan mengalir masuk, dan mengalir ke hadapan tuannya masing-masing. Tumpeng-tumpeng itu disiapkan oleh kaum perempuan. Dan perempuan tidak mereka bolehkah untuk ke masjid, itulah sebabnya.
Banyak keunikan di Kampung Naga. Seperti aksitektur rumah-rumah warga. Rumah-rumah itu tegak disangga kerangka utama dari tiang-tiang kayu. Berukuran masing-masing sekitar 10 x 10 cm, jumlah tiang utama pada sisi bangunan yang memanjang selalu lima buah. “Untuk memenuhi persyaratan lima katimbang,” ujar sang kuncen.
“Dari nenek moyang kami dulu sudah begitu,” katanya.
Dinding rumah rata-rata terbuat dari anyaman bambu. Terdapat dua jenis anyaman. Pertama kepang, bentuknya seperti anyaman gedeg di Jawa Tengah. Kedua anyaman sasag.
Menurut Djadja, setiap rumah memiliki kolong. Antara permukaan tanah dan lantai berfungsi mengatur suhu dan kelembaban udara. Tapi ada pula kegunaan lain. “Kami di sini menyimpan alat-alat pertanian, dan juga ternak,” ujar Djadja.

“Yang khas dari arsitektur Kampung Naga adalah atapnya,” kali ini kata Kasadayana. Atap rumah dilapisi ijuk. Sehingga menyerupai tanduk. “Orang menyebutnya macam-macam,” ujar Kasadayana, “gapit, cagak gunting, ada pula yang menyebut capit hurang.”
Kenapa begitu, sebab bumi dan langit dan semua isinya, termasuk penghuni rumah, merupakan kesatuan jagat raya. Nah, karena itu semua warga harus menggunakan alam.
“Itu warisan leluhur. Kami tak berani menggantinya dengan genting, meskipun mudah didapat di sekitar kampung,” ujarnya, yang baru tiga tahun lalu memperbaiki rumahnya.
Pada prinsipnya, ruang di rumah Kampung Naga terbagi dalam tiga bagian: depan, tengah, dan belakang. Menurut Djadja, pembagian itu sesuai dengan pandangan orang Naga terhadap dunia: dunia atas, tengah, dan bawah. Bagian depan rumah digunakan untuk menerima tamu, dikenal sebagai daerah pria. Seorang tamu harus dihormati.
Ruang tengah atau tengah imah merupakan daerah netral, bisa digunakan pria atau wanita. Kegiatan selamatan, meletakkan jenazah sebelum dimakamkan, bermain bagi anak-anak dilakukan di sini. Di tepi tengah imah terletak  atau kamar tidur. Ini bagian rumah yang sakral. “Anak-anak dilarang bermain di pangkeng.”
Rumah kuncen Djadja Sutedja juga seperti itu, mengikuti adat. Di ruang yang terbuat dari bilik yang dicat kapur itu terletak sebuah tempat tidur berkasur. Di atas kerangka kayu yang memanjang terletak foto Kuncen dan foto anak-anaknya. Pintu penghubung pangkeng dan tengah imah hanya ditutup sehelai kain. Tak ada daun pintu.
Di bagian belakang rumah terdapat, dapur. Ini kawasan wanita. Lelaki hanya diperkenankan masuk untuk keperluan sekadarnya, seperti mengambil makanan, misalnya.
“Lelaki dilarang bercakap-cakap di dapur,” ujar Sutedja. “Itu tidak baik.” Tapi bagian belakang yang benar-benar tabu bagi lelaki adalah goah atau pandaringan. Tempat penyimpanan padi ini hanya boleh dimasuki kaum hawa.
“Tempat padi kan tempatnya Dewi Sri. Jadi hanya perempuan yang boleh masuk,” kata Djadja lagi.
Dalam satu hal ada lagi, semua rumah memanjang pada jurusan barat-timur. Masyarakat Naga tak berani menentang kodrat alam, menurut Djadja lagi. Arah barat-timur, katanya, adalah arah jalannya matahari. Dengan begitu pintu masuk berada di sebelah selatan atau utara. Tapi khusus pintu dapur harus dibikin dari anyaman sasag.
“Selain ketentuan leluhur, bila ada bahaya api di dapur lekas ketahuan,” Djadja memberi penjelasan.
Di Kampung Naga, kedudukan seorang kuncen sangat tinggi. Seperti dikatakan Kasadayana, kuncen dianggap memiliki kekuatan yang berlebih dari orang kebanyakan termasuk menjadi penghubung manusia dengan kekuatan-kekuatan luar, misalnya arwah leluhur.
“Tapi sampai kini, menjadi kuncen lebih dari 20 tahun, saya belum pernah mengalami hal-hal gaib,” ujar Sutedja dengan jujurnya.
Rata-rata mata pencaharian masyarakat Kampung Naga adalah petani dan perajin. Tak heran jika ekonomi warga kurang berjalan lancar. Kesulitan ekonomi tak hanya dialami Kasadayana, si kuncen sendiri tak luput.
“Rata-rata kami tidak bekerja sebagai dagang atau kantor,” ujar Kasadayana, sambil memegang kepalanya yang sudah memutih rambutnya.
Kasadayana menceritakan, pernah kuncen (Djadja) tidak punya uang untuk membiayai anaknya sekolah. Anak-anak Djadja jumlahnya delapan. Ada yang di SLTP. Karena terlambat bayar, mereka malu dan tidak masuk sekolah. Kendati demikian Djadja menolak uluran tangan pemerintah sewaktu hendak menjadikan Kampung Naga obyek wisata.
“Kata kuncen waktu itu, rezeki yang mengatur Tuhan,” cerita Kasadayana.
Menurut kuncen, adanya tempat wisata akan mengundang maksiat. “Nanti banyak perempuan berkeliaran di sini,” kenang Djadja yang mendapat tawaran dari pemerintah menjadikan Kampung Naga sebagai tempat wisata.
Memang, bila Kampung Naga dijadikan obyek wisata, keuangan penduduk akan membaik. “Tapi apa gunanya uang, jika adat-istiadat rusak?” kata Djadja, agak sengit.
Dalam pemilihan lurah beberapa waktu yang lalu, Djadja sempat terpilih menduduki jabatan itu. “Saya menangis. Malah saya akan mengadakan kenduri jika saya tak terpilih.”
Lho kok begitu? “Kalau jadi pejabat, saya akan terpaksa berbohong. Menipu kuitansi, misalnya. Wah, ya. Kalau terpaksa, yah, tidak apa-apa, saya kira,” ujarnya. Ia tersenyum, memperlihatkan giginya yang besar-besar.bs/ajie

0 comments:

Post a Comment